PUISI KH MUSTOFA BISRI (Gus MUs) Tentang Pahlawan

KH. Mustofa Bisri atau yang lebih akrab dipanggil Gus Mus merupakan kiyai sekaligus budayawan berasal dari Desa leteh, Rembang, jawa Tengah, Indonesia. Gus Mus banyak menulis cerpen dan puisi. Diantara puisinya yang banyak dibaca adalah tpuisi tentang Pahlawan.

Puisi Gusmus Tentang Pahlawan

DI TAMAN PAHLAWAN
Karya : KH. Mustofa Bisri


Gambar KH Mustofa Bisri/Gus Mus baca puisi

Di taman pahlawan beberapa pahlawan sedang berbincang-
bincang tentang keberanian dan perjuangan.
Mereka bertanya-tanya apakah ada yang mewariskan semangat
perjuangan dan pembelaan kepada yang
ditinggalkan
Ataukah patriotisme dan keberanian di zaman pembangunan ini
sudah tinggal menjadi dongeng dan slogan ?
banyak sekali tokoh di situ yang diam-diam ikut mendengarkan
dengan perasan malu dan sungkan
Tokoh-tokoh ini menyesali pihak-pihak yang membawa mereka
kemari karena menyangka mereka juga pejuang-
pejuang pemberani. Lalu menyesali diri mereka sendiri yang dulu
terlalu baik memerankan tokoh-tokoh gagah
berani tanpa mengindahkan nurani.
(Bunga-bunga yang setiap kali ditaburkan justru membuat mereka
lebih tertekan)
Apakah ini yan namanya siksa kubur ?
tanya seseorang di antara mereka yang dulu terkenal takabur
Tapi kalau kita tak disemayamkan di sini, makam pahlawan ini
akan sepi penghuni, kata yang lain menghibur.
Tiba-tiba mereka mendengar Marsinah.
Tiba-tiba mereka semua yang di Taman Pahlawan,
yang betul-betul pahlawan atau yang keliru dianggap pahlawan,
begitu girang menunggu salvo ditembakkan dan genderang
penghormatan ditabuh lirih mengiringi kedatangan
wanita muda yang gagah perkasa itu
Di atas, Marsinah yang berkerudung awan putih
berselendang pelangi tersenyum manis sekali :
maaf kawan-kawan, jasadku masih dibutuhkan
untuk menyingkapkan kebusukan dan membantu mereka
yang mencari muka.
kalau sudah tak diperlukan lagi
biarlah mereka menanamkannya di mana saja di persada ini
sebagai tumbal keadilan atau sekedar bangkai tak berarti
(1441)


Kumpulan Puisi Chairil Anwar Terbaik Dan Terindah

Kumpulan puisi Chairil Anwar terbaik - Salah satu penyair dan penulis puisi terbaik negeri ini yang banyak melahirkan puisi-puisi indah adalah Chairil Anwar. Beliau adalah penyair papan atas Indonesia yang kepiawaiannya telah diakui oleh masyarakat Indonesia bahkan dunia.

Namanya begitu harum dikalangan dunia sastra Indonesia. Dia sangat genius dan piawai mengolah kata kata dalam bentuk puisi yang indah dan bermakna.

Diantara puisi-puisinya yang terbaik dan banyak disukai akan kumpulan puisi dan syair indonesia bagikan buat Anda dibawah ini.

Puisi terbaik Chairil Anwar


YANG TERAMPAS DAN YANG PUTUS

Kelam dan angin lalu mempesiang diriku,
menggigir juga ruang di mana dia yang kuingin,
malam tambah merasuk, rimba jadi semati tugu

Di Karet, di Karet (daerahku y.a.d) sampai juga deru dingin

Aku berbenah dalam kamar, dalam diriku jika kau datang
dan aku bisa lagi lepaskan kisah baru padamu;
tapi kini hanya tangan yang bergerak lantang

Tubuhku diam dan sendiri, cerita dan peristiwa berlalu beku

1949

SENJA DI PELABUHAN KECIL

buat: Sri Ajati

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap

1946

SAJAK PUTIH
buat tunanganku Mirat

Bersandar pada tari warna pelangi
kau depanku bertudung sutra senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senda

Sepi menyanyi, malam dalam mendoa tiba
meriak muka air kolam jiwa
dan dalam dadaku memerdu lagu
menarik menari seluruh aku

hidup dari hidupku, pintu terbuka
selama matamu bagiku menengadah
selama kau darah mengalir dari luka
antara kita Mati datang tidak membelah...

Buat Miratku, Ratuku! kubentuk dunia sendiri,
dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!
Kucuplah aku terus, kucuplah
dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku...

1944

PRAJURIT JAGA MALAM

Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu ?
Pemuda-pemuda yang lincah yang tua-tua keras,
bermata tajam
Mimpinya kemerdekaan bintang-bintangnya
kepastian
ada di sisiku selama menjaga daerah mati ini
Aku suka pada mereka yang berani hidup
Aku suka pada mereka yang masuk menemu malam
Malam yang berwangi mimpi, terlucut debu......
Waktu jalan. Aku tidak tahu apa nasib waktu !

1948


Siasat,
Th III, No. 96
1949

DIPONEGORO

Di masa pembangunan ini
tuan hidup kembali
Dan bara kagum menjadi api

Di depan sekali tuan menanti
Tak gentar. Lawan banyaknya seratus kali.
Pedang di kanan, keris di kiri
Berselempang semangat yang tak bisa mati.

AKU

Kalau sampai waktuku
'Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

Maret 1943


DERAI DERAI CEMARA

Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

1949




CINTAKU JAUH DI PULAU

Cintaku jauh di pulau,
gadis manis, sekarang iseng sendiri

Perahu melancar, bulan memancar,
di leher kukalungkan ole-ole buat si pacar.
angin membantu, laut terang, tapi terasa
aku tidak 'kan sampai padanya.

Di air yang tenang, di angin mendayu,
di perasaan penghabisan segala melaju
Ajal bertakhta, sambil berkata:
"Tujukan perahu ke pangkuanku saja,"

Amboi! Jalan sudah bertahun ku tempuh!
Perahu yang bersama 'kan merapuh!
Mengapa Ajal memanggil dulu
Sebelum sempat berpeluk dengan cintaku?!

Manisku jauh di pulau,
kalau 'ku mati, dia mati iseng sendiri.

1946

Kumpulan puisi diatas merupakan puisi terbaik Chairil Anwar yang banyak menyimpan makna dan arti yang dalam. Begitu indah dan menyentuh hati siapapun yang membacanya. Selamat menikmati puisi diatas dan semoga Anda menyukainya.



KUMPULAN PUISI JAWA UNIK BANGET

Puisi dan syair Indonesia – Buat teman-teman yang demen dan nyari puisi jawa. Berikut ini kami bagikan kumpulan puisi jawa unik banget dan tentunya menarik untuk dibaca. Puisi jawa ini memiliki makna yang dalam jika dipahami. Namun, bagi teman-teman yang tidak ngerti bahasa jawa bisa Tanya kepada temannya yang ngerti bahasa jawa. Saya sendiri kurang begitu paham dengan maksud puisi ini namun ada ketertarikan untuk berbagi kepada teman semua. Langsung saja silahkan dibaca puisinya dibawah ini.

Kumpulan puisi jawa unik banget




kumpulan puisi jawa unik banget
PEPADANG BAKAL TUMEKA

angrantu sinambi jumangkah ing dalan kang peteng kebak sandungan
mecaki lurung lurung kang dawa satengahing ara-ara samun
bumi kang kapidak kebak sinengker
anggawa ganda bacin
manuk manuk dhandhang kekitrang wayah sore
peteng kang gemuleng ing angganing manungsa

wus sinerat ana ing kitab duk ing uni
pepadang bakal tumeka anggawa kabar bebungah
kanggo kita sami jalma manungsa
kang bakal amadhangi lurung-lurung, dalan-dalan lan ara-ara samun
amadhangi sakendhenging jagat raya
mara gage kita sami tumenga ing angkasa
mangayubagya rawuhipun sang pepadhang
kanthi mesu raga nutup babahan nawa sanga
mangestu nampi pepadhang .....

jakarta wanci adven minggu kaping kalih warsa 2009
----------------------------------------------------------

WAYAH ESUK PEDUT ANGENDANU

jakarta 8 april 2009

rong puluh tahun kepungkur aku lan sliramu nate mlaku ana dalan kene
saklawase ora nate ketemu
saliramu lan saliraku wus beda ora kaya biyen nalika isih tak kanthi
gandaning wengi mau isih sumrebak ngebaki pedut wayah esuk

wus aja mbok tangisi lakon kang wus kapungkur
wus pirang wayah ketiga tak lakoni nganti rambut warna ireng lan putih
ing dalan iki rong puluh tahun kepungkur
ana cerita rinajut endah

dik, kala kala sliramu isih dadi impenku
pirsanana ana nduwur kae
ana teja manther ing sela-selaning gegodongan
lan lintang panjer wengi sing isih kari sakmenir gedhene

saiki aku lan sliramu linambaran rasa kangen
simpenen kangenmu ana impen
-----------------------------------------

PETENGING WENGI
maymintaraga 19 april 2009

sumribit angin ngelus langit sore
manuk sriti bali ing pucuking cemara
nganti tekaning wengi sing nyenyet
gawang-gawang katon pasuryanmu

gawe tambah kekesing angin sore
tumlawung rasa kang ngulandara
wengi bakal tumeka maneh
bareng karo wewayanganmu
kang bakal ngebaki impen petenging wengi

lumaku turut petenging lurung
bakal gawang-gawang campur mega-mega
apa kudu tak buwang bareng karo lumingsiring wengi ?
------------------------------------------------------------

NYAWANG PUCUKING GUNUNG SUMBING
maymintaraga 19 april 2009


sawah lan pategalan bawera
lumaku saktengahing kunang-kunang
kumelip nggawa wisik saka pucuking gunung sumbing
tak goleki ngendi panggonanmu

bapa biyung kang wus tumeka ing kasedan jati
anakmu isih nyawang pucuking gunung sumbing
ana ing saktengahing sawah pategalan sing dadi pangeling

o, bapa lan biyung...
saiki panggonanmu ing pangayunaning pangeran
isih bisa nyawang ana ing panggonan iki
sawangen anakmu

-----------------------------------------

KEKUDANGANKU
maymintaraga 19 april 2009


o, ngger sang ponang jabang bayi
bebarengan tangismu kang kejer sumusup ing wengi
sira wus lahir kanthi slamet
nyawang gumelaring jagat raya

yen sira nangis tak emban lan tak tembangake dandang gula lingsir wengi
kapurih sira bisa turu kanthi tentrem
yen sira mesem tak kudang tak liling

o, ngger sang ponang jabang bayi
tak gadang dadiya wong kang luhur bebudenmu ing tembe.

kanggo: fabian moreno setiawan lan rubi dirgantara
---------------------------------------------------

UDAN WAYAH SORE
maymintaraga 02 mei 2009


udan riwis-riwis nggawa angin gumanti
ora kaya nalika kang kawuri sing kebak pangarep-arep
dikaya ngapa lemah wus kebanjur teles

sesuk esuk yen sang surya wiwit sumunar
lan manuk kepodang colat-colot ana wit gedang
tak tunggu tekamu ing sak ngisore payung
tak kanthi lakumu tumeka ngendi

mbokmenawa sesuk sore wus ora udan riwis-riwis
marakake gawe kekesing ati
manuk kepodang wus mabur mangulon
nanging tetep tak tunggu tekamu ***
---------------------------------------------------------

NALIKA SEPI ....

pasuryanmu sing bening
tumiba ing banyu mili turut pletheking surya
saya suwe tansaya adoh
ninggalake sepi

tan ana sabawa gumrisiking alang alang
aku mung bisa nyawang
pasuryanmu sing kagawa banyu mili turut kali
nganti datan katon kasaput pedut.


Dibagikan oleh : puisi dan syair indonesia
Sumber : kanjeng panseria

Puisi Agustus Karya Mansur Samin

Puisi agustus karya Mansur samin ini layak untuk kit abaca dan renungkan bersama. Puisi ini memberikan banyak makna bagi siapapun yang membacanya. Mansur Samin yang kita kenal sebagai penyair besar Indonesia telah banyak menciptakan karya puisi yang indah dan menarik. nah inilah puisi beliau dengan judul AGUSTUS.

PUISI MNSUR SAMIN - AGUSTUS

Oleh : Mansur Samin

Berdirilah hening dalam kehampaan malam
jiwa siapa yang patut dikenang
hitung dari mula
kerna letak kejadian indah
adalah hadirnya upcara duka
membangun kepercayaan teguh
 
Apakah mereka dengan kita bicara
menghitung hari-hari silam kehilangan rupa
atas rumah-rumah di lingkaran gelap
atas anak-anak di ketiadaan harap
dari dulu terduga selalu
Berdrilah hening dalam kehampaan malam
ucapkan lunak kesanggupan yang bimbang
jangan tangisi, jangan hindari kenyataan ini
kerna fajar pagi akan membuka langit letihnya
menyediakan tanya untuk kita saling tidak bicara
 
Di mendung gerimis Agustus ini
simpanlah risalah lama melantung kedalaman
tentang hari-hari gemilang yang akan datang
tentang akhir-akhir hutang yang tiada pegangan
heningkan di sini, jangan dengan separo hati !
Berdirilah hening dalam kehampaan malam
melupakan cedera kehilangan rupa
tegakkan pula
suatu bentuk baru di hatimu mengorak jauh
suatu pandangan kudus di pilumu diam bergalau
kita pun semua tahu untuk apa mengenang itu.
 
 
Mimbar Indonesia,
Th XIV, No. 50
1960
Sajak-sajak Perjuangan dan Nyanyian Tanah Air
Puisi dan syair indonesia